Translate

Rabu, 28 November 2018

Hey, I'm still alive. I'm still trying to survive!
Hari ini, salah seorang guruku memberi instruksi, "kalian buat origami bentuk apa saja, lalu beri pada ibu, ya!" "Oh ya, juga ceritakan perasaan kalian saat ini di origaminya. Jangan lupa nama ya, anak-anak!" .

.
.
Perasaan? Perasaanku? Bagaimana, ya?
Jika dilihat dari foto yang kuunggah ini, apa sudah langsung terlintas dalam benakmu, bagaimanakah aku kini?

Alhasil, aku hanya menulis saja, kurang lebih seperti ini :
Nama : Defina Sukowardhani
X - MIPA A
"Bu, saya saja bahkan tidak mengerti bagaimana perasaan saya sekarang. Semuanya terlihat sama saja, hambar dan abu-abu. Bahkan ketika saya harus senang atau sedih, saya tidak tahu. Ah, sepertinya hatiku tidak sedang dalam keadaan yang cocok untuk ditanyai pertanyaan seputar "Bagaimana" atau "Mengapa".
(emoticon smile)."

Kata dunia, jika seseorang seperti aku itu bisa disebut "mati rasa" atau sudah tidak punya lagi mimpi-mimpi yang harus diwujudkan. Hey, kawan, I have some.

Aku punya mimpi untuk menerbitkan buku milikku sendiri. Tetapi sepertinya, memang benar kata orang-orang. Bahwa menulis itu sesuai keinginan, tanpa paksaan, dan biarkan ia mengalir saja dari kepala. Dan sekarang, kepalaku sedang terbagi menjadi beberapa bagian (tidak bisa diusik!!). Ujian menanti di Rabu depan. "Belum waktunya, sayang. Belum." Ujarku pada kedua jempol dan beberapa pena yang siap menjadi senjata menulis ku.

Aku punya mimpi untuk melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia ku ini. Benar, motivasiku sejak aku masih mengenakan seragam putih-merah. Aku sudah terlalu mencintai kampus itu. Ya, aku masih punya tujuan setelah bangku SMA ini.

Aku punya mimpi untuk melanjutkan hidup bersamamu. Entah kita ini sudah digariskan atau sekadar dipertemukan, aku masih belum tahu. Yang aku tahu, aku senang bila bersamamu ea eA.

Dan masih banyak lagi, kawan. Ya, sudah jelas aku memiliki mimpi yang harus kujadikan kenyataan. Namun, mengapa kelabu masih terasa? Apa yang kurang, ya? Mengambang-ambang tak tentu arah di kota berkabut.

"Manusia memang begitu. Seharusnya, diberi kesempatan untuk merasakan saja sudah cukup, tetapi masih meminta lebih.
Manusia memang begitu. Seharusnya, diberi yang dekat, tetapi masih memilih jauh.
Dasar, manusia memang suka menyiksa dirinya sendiri."

"Sssstt, kau berisik. Kau tidak tahu arti perasaan, jadi diam saja."

Percayalah, pasti setiap otak dan hati manusia pernah berdebat semacam ini dalam diam. Kurasa memang benar bahwa, diamnya manusia yang sedang kehilangan dirinya sendiri itu sangat berisik.

Sekian untuk hari ini. Jakarta, 21:43.



NB : 2 foto ini kuambil saat pelajaran PKWU. Kerajinan makrame ini 10% karyaku dan beberapa kawan, dan 90% nya oleh kawanku yang paling rajin dan cantik bernama Muti. Terimakasih Muti.

[foto hanya pemAniS]